My Dally Babbling #24

Hello, my dear readers  :”)

It has been very… very… long time we couldn’t see each other. Maybe it has been one year apart? LOL, I didn’t count it. Last we met, I just wanted to inform you guys, that I had some projects that I should do so that is why I could not update any stories. And, time flies, I didn’t realize, I am in my third years of study so I was so freaking busy to my lovely schedule  :”.

And, we even didn’t know that we will face this kind of accident. The disease (we know it all and yes, COVID-19 :’) ) is gonna be burst too much. All people should take care of themself so we have to stay at home as long as possible and delay all our plans this year. Such as works, study, and many more.

And I hope you guys can accompany me in release my freaking stressful because of this trial to stay at home make me the old student should cancel all my plan, tho. So sad #cry.

Anyways, I am glad to can join again 😀

My Dally Babbling #23

I miss my home. I have just been arriving at my renthouse about 8 hours ago. Tomorror my first college attendance after 1 month school-off. I dont know. I couldnt sleep. The atmosphere is so different. I am not used to be.

Always same feeling after holiday. I will make sire my self to be better child at home. But, when the time is coming, i was back to my bad habit.  Now, aftee chance is passed. I regret it in my depth of heart.

It is ver thoughtful.

My Dally Babbling #22

Dear.

I do regret about what i’ve done before. I thought that i was clear mind person who can overcome the thing that people say “love makes someone blind”.

Now, i am being feel guilty just to imagine that i should comunicate intimate for him again. I am being worry when he suddenly chat me in social room. I only wanna alone. And now, i found what he does just to be bothering me anytime.

Now, i immediately know that i’m just being childish and selfish who play around someone heart. Leave when i get bored.

I hope him to just stop doing this damn action because i really dont want to hurt him. Eventhought i am the person who tied him in this shitty relationship, firstly.

I apologize for being immature but i also don’t feel sorry about what i had done.

MY Dally Babbling #21

I totally understand now. It doesnt mean we distinguish some type of person. But in this reality, we only could rely to someone who balance between EQ and IQ. So our work will be worth. Not gonna get heart desease.

I finally found. It is true that Quality will win over Quantity.

Quantity just make you sick!

Too many mouth babbling over tit and tat. Meanwhile, too many things you do are just gonna be priceless.

My Dally Babbling #18

Ini nih yang bikin bingung. Manusia sekarang ya ada ada aja perangainya yang seakan meminta untuk ditampol. Aing kira Nona ini meminta Aing buru-buru buat bagian tugas kelompok karena mau buat bagiannya bagus-bagus. Eh, jangan berharap apapun, guys. Kalau ga sesuai harapan, rasanya mau mengumpat.

Mengumpat boleh ga?😑

My Dally Babbling #15

Aku sedih sekaligus ingin mengumpati diri sendiri. Ini murni kesalahanku yang selalu ceroboh dan tergesa-gesa. Pada akhirnya orang yang tidak ada hubungannya dan tidak mendapatkan impact apa pun terkena imbasnya. Aku ingin merutuki bahwa bagaimana aku pada akhirnya tidak mengikuti kata hatiku dibanding mendengarkan kata-kata orang lain yang tidak sejalan dengan prinsipku. Aku selalu mengatakan baik pada diri sendiri maupun orang lain bahwa aku tidak terbiasa minta tolong. Bukan karena aku merasa aku lebih baik dari orang lain dan/atau aku tidak sudi menerima belas kasihan orang lain tetapi dikarenakan aku selalu takut bahwa aku akan menyusahkan orang lain secara fisik atau pun mental. Aku selalu merasa aku hanya membuat orang lain menolongku karena segan sehingga terpaksa. Aku bahkan takut walau hanya sekedar membayangkan mereka membenciku dan mencercaku di dalam hati mereka. Jadi aku selalu memerintahkan diriku untuk selalu melakukan apa pun yang sebenarnya bisa aku perjuangkan sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Aku tahu itu tidak benar. Manusia sebagai makhluk sosial, dalam hidup pasti pernah harus bergantung pada orang lain. Aku tidak menafikan kalau aku juga membutuhkan bantuan itu. tetapi hal remeh-temeh yang kalau dipikirkan sebenarnya jika berusaha lebih dan berupaya lebih keras ternyata dapat dilakukan dengan tangan sendiri. Why not?

Aku tidak bisa menyalahkan walau sebenarnya yang memiliki ide dan menyarankan merupakan pihak lain. Namun tidak peduli apa pun alasannya bukankah orang akan selalu melihat hasil dibanding proses? Jadi siapa yang peduli menjadi dalang jika yang melaksanakan dan menjadi pelaku adalah aku sendiri? Siapa yang mau mendengarkan alasan-alasan itu ketika mereka telah merasa dipecundangi atau dirugikan. Aku yang meminta tolong, aku yang memohon, dan aku yang membujuk.

Aku tidak menyalahkan dia yang marah padaku. Lebih kepada aku tidak tahu lagi sikap apa yang harus aku tunjukan sebab perasaan bersalah itu akan menghantuiku kapan pun aku mengingat dia.

Dia memaafkanku adalah amnesti terbesar yang aku bisa peroleh. Aku tidak akan konyol untuk meminta dia mengerti perasaanku dan merasa bersalah juga untuk itu.

Mereka bilang ini menjadi pelajaran untuk menjadi dewasa. Ya, aku tahu. Aku sangat tahu. Bagaimana mungkin aku tidak paham ketika aku bukan lagi anak kecil yang belum mendapatkan KTP?

Mereka bilang tidak perlu memikirkannya terlalu jauh karena mereka teman. Mereka akan mengerti. Tetapi aku bahkan kepada sahabatku sendiri tidak bisa melakukan hal yang sama.

Aku tahu aku tidak boleh menyalahkan orang lain. Aku juga tidak mengalihkan kesalahan itu pada siapa pun. Aku mengerti kenapa dia marah. Kenapa dia kasar. Kenapa dia berkata begitu menusuk jantungku.

Aku bahkan tidak sanggup meneteskan air mata. Aku bahkan tidak mampu menunjukkan kesedihanku kepada siapa pun. Karena aku merasa aku sangat tidak layak bertindak seperti itu.

Dan juga, aku takut tidak ada yang bersimpati padaku.

Sekarang aku menjadi takut dan trauma. Prinsipku mungkin akan semakin ketat dan mengikatku dibandingkan sebelumnya. Bukannya aku lemah mental atau pengecut. Hei, aku bisa menoleransi 1000x lipat jika orang mengejekku, mencemoohku, mem-bully-ku terang-terangan. Kulitku sudah terlalu tebal dan hatiku sudah kebal menerima perlakuan semacam itu dari kecil. Itu disebabkan yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan aku. Bukan aku yang berbuat salah. Tetapi berbeda jika aku sendiri yang salah, aku selalu merasa aku buruk dan takut akan pikiran orang lain.

Inilah aku. Aku tidak pernah pandai membuat orang mengerti perasaanku. Tiap kali aku menyebutkannya, aku hanya akan disalahkan.

Sensitif. Terbawa perasaan. Tidak pandai bercanda.

Aku paham. Aku tahu.

Haahh. Padahal aku ingin menceritakan keasikanku hari ini. Namun siapa sangka berakhir seperti itu. mungkinkah keberuntunganku selalu menjauh dariku? Mengapa tidak ada hal becus setiap aku berbuat sesuatu.