Froth on the Sea

Hari ini sedikit mendung dan berangin.

Ingin rasanya aku tetap diam di atas kasur dan berlindung di bawah selimutku yang hangat dan nyaman. Namun, aku tidak bisa begitu. Bagaimanapun keadaannya, segawat apapun keadaannya, atau ada hal yang lebih buruk lagi dari apa yang terjadi sekarang, aku haruslah tetap keluar.

Ketika pintu terbuka, angin langsung menerpa wajahku dan menghembuskan rambutku yang diikat kuda. Angin itu cukup menerbangkan tirai-tirai dalam ruangan kecil milikku. Aku pun mulai melangkah dan berjalan tanpa arah.

Tidak banyak orang yang berlalu-lalang, mengingat cuaca yang seperti ini tentu saja mereka memilh berlindung di dalam rumah yang hangat ditemani secangkir coklat panas sambil menonton tv. Atau, tidur.

Aku terus berjalan sambil menatap sekeliling jalanan yang aku tempuh, hingga pandanganku jatuh kepada seorang anak kecil berumur 10 tahunan yang sedang mengais-ngais sampah kertas yang berserakan di trotoar. Cukup lama aku menatapnya hingga aku memutuskan untuk menemuinya. Karena ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.

Aku menghampirinya dan menepuk pundaknya dari belakang. Sepertinya anak kecil itu terkejut. Aku tersenyum tipis, “Apa yang sedang kau lakukan di cuaca seperti ini?”

Anak laki-laki itu mengerutkan keningnya sebentar lalu menatapku dengan pandangan geli, ia pun tersenyum, “Bagaimana dengan Kakak? Apa yang kau lakukan disini?”

Dia balik bertanya kepadaku, aku sedikit terkejut lalu berusaha menjawab pertanyaannya yang menurutku sedikit rumit, “Aku ada perlu lalu melihatmu makanya aku menemuimu.”

“Di cuaca seperti ini?” Tanyanya lagi.

“Jika itu penting, cuaca seperti ini bukanlah halangan.”

“Begitu juga denganku.” Aku diam menyimak. “Di cuaca berangin seperti ini kertas banyak yang berterbangan dan berserakan di jalanan jadi aku mengambil kesempatan itu untuk memungutnya.”

Cukup lama aku terdiam hingga aku berani bertanya yang menurutku sebuah pertanyaan konyol, “Untuk apa?”

Sambil terus mengambil kertas itu, anak laki-laki itu menjawab, “Untuk dijual lalu uangnya aku gunakan untuk membeli sepotong roti.”

Hatiku tersentuh lalu entah kenapa mulut ini terus bertanya, “Dimana orang tuamu?” Sejenak anak laki-laki itu memasang raut sedih dan akupun mengerti.

Anak itu memadatkan kertas yang telah dikumpulkan di sebuah keranjang rotan. Setelah dipadatkan ia pun menutup keranjang itu agar kertas-kertas yang telah dikumpulkannya tidak berterbangan. “Aku yatim-piatu. Orang tuaku meninggal karena sakit keras, saat itu aku masih kecil.”

Akupun juga membantunya memungut kertas-kertas yang bergelinding di trotoar itu lalu meletakkannya di keranjang, “Apa sejak orang tuamu meninggal kau berkerja?”

Anak laki-laki yang menggunakan kaus lusuh berwarna coklat dan celana pendek selutut itu menyanggahnya dengan cepat, “Tidak. Aku telah lama memungut kertas-kertas ini supaya orang tuaku tidak terlalu terbebani. Orang miskin seperti kami harus berkerja keras demi mendapatkan sepotong roti.”

Ketika tidak ada satupun kertas yang bersisa, anak itu berjalan mencari tempat lain. Aku mengikutinya, “Lalu dimana kau tinggal?”

“Dimanapun. Asal bisa digunakan untuk tidur, dimanapun bisa.”

Aku terhenyak.

“Orang-orang sepertiku ibarat buih di lautan yang luas. Jika kami tidak bisa bertahan maka siap-siap saja dihantam ombak atau menguap oleh panas.”

Benar. Orang-orang seperti anak ini ibarat buih di lautan yang luas, tidak dianggap. Setelah kami berjalan cukup lama akhirnya aku sadar bahwa aku telah berjalan terlalu jauh. Aku berhenti. “Sepertinya aku harus pergi.”

Anak laki-laki itu juga berhenti dan menatapku, “Kalau begitu sampai jumpa.”

“Tunggu!” Buru-buru aku memegang lengannya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di tangan anak laki-laki itu. “Ini untuk kerja kerasmu.”

Ia tersenyum lalu memasukkannya ke dalam saku celananya, “Terima kasih.”

“Ya, sama-sama.”

Setelah itu anak laki-laki itu menghilang di balik tikungan jalan. Setelah terdiam cukup lama tiba-tiba selembar daun mengenai wajahku, aku tersadar. “Sial. Aku lupa menanyakan namanya!”

FIN.