SEP-1

Bagian I

Hari ini adalah hari ke-delapan puluh sembilan Ah Jue menginap di salah satu bangsal rumah sakit perawatan penderita kanker. Ah Jue menatap dengan tenang kepada satu-satunya kakak laki-laki yang telah menjadi kepala keluarga sejak dua tahun lalu yang sekarang sibuk mengupas apel disamping tempat tidurnya. Sedangkan adik perempuan bungsunya menatap seksama kepada potongan apel dengan mata melotot. Ah Jue jelas memperhatikan keadaan kakaknya yang semakin kurus sejak Ah Jue diopname menderita kanker darah stadium dua.

Ah Jue tidak mengerti sama sekali. Mereka jelas sama-sama tahu bahwa dengan keadaan kehidupan mereka yang sekarang ini, untuk membayar rawat inap ini saja mereka hampir tidak sanggup apalagi jika Ah Jue mengadakan kemoterapi.

“Kenapa kita tidak pulang saja? Apa gunanya aku terus-terusan dirawat?” kata Ah Jue dengan wajah tenang seakan-akan ia membicarakan ia dirawat inap hanya karena sakit flu.

Ben menegang sesaat ketika mendengar pertanyaan yang telah ribuan kali Ah Jue tanya sejak minggu pertama adiknya dirawat. Ben terkadang berpikir mengapa Ah Jue selalu bersikap seolah kanker bukanlah penyakit yang bisa tiba-tiba merenggut kehidupannya. Sikap Ah Jue yang seperti ini malah membuat Ben semakin sedih dan depresi karena ia tidak bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk adiknya. Namun seperti biasa Ben menghiraukan perkataan Ah Jue dan melanjutkan acara mengupas apelnya.

Ah Jue tidak bodoh. Sejak Ah Jue diopname, Ben semakin keras bekerja paruh waktu dan telah menggadaikan properti kenang-kenangan orang tua mereka. Padahal properti itu seharusnya digunakan untuk kebutuhan Ah Nan, adik perempuan bungsunya yang masih berumur 8 tahun. Selain itu Ben masih kuliah dengan menggunakan uang beasiswa. Jika ia terus-menerus seperti ini, Ben mungkin tidak bisa mempertahankan beasiswanya itu. Ah Jue tidak pernah menjadi orang yang egois. Sebagai orang yang punya kanker sendiri, ia jelas tahu bahwa sia-sia saja untuk mempertahankan pengobatan ini.

Dulu ketika pertanyaan seperti ini tidak dijawab oleh Ben, Ah Jue juga tidak akan melanjutkannya. Namun sekarang situasinya berbeda. “Aku tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit. Semua yang dikatakan dokter jelas berupa ambiguitas. Kanker darah stadium dua sudah merupakan sesuatu yang jelas sulit untuk disembuhkan. Dari pada membuang-buang uang untuk hal seperti ini lebih baik menyimpannya. Ben, kumohon, biarkan saja aku seperti ini dan tidak perlu berjuang mengobati penyakitku.”

“Tidak ada yang sia-sia,” jawab Ben dengan suara rendah.

Ah Jue jelas tidak menyerah. Ia memegang tangan Ben yang beralih untuk mengambil apel selanjutnya. “Ben dengarkan aku! Ini jelas sebuah kesia-siaan. Apa kau tidak dengar kemungkinan dokter? Aku ini kena kanker Ben! Kanker! Kanker darah stadium dua! Kau tidak perlu bersusah payah untuk menyembuhkanku! Kita tidak punya uang untuk itu!”

Ben tidak bisa menahan emosinya. “Uang bisa dicari. Ah Jue, tidak ada yang lebih berharga dari pada kehidupanmu! Cukup kehilangan orang tua kita dan sekarang kau ingin aku melepaskan kamu juga?”

Ah Jue tersedak. Ah Jue menatap mata Ben yang berkilau karena menahan air mata. Tetapi Ah Jue tetap berbicara, “Apa gunanya membuang uang ketika kita semua tahu hasilnya? Ben ini bukan masalah sepele tentang uang. Ini tentang Ah Nan!”

Saat Ah Nan disebut, Ben tanpa sadar melirik Ah Nan yang sibuk berceloteh dengan kakek-kakek di seberang mereka. Ah Jue melanjutkan, “Ah Nan masih kecil Ben. Jika semua usahamu dan uang yang kau hasilnya hanya untuk dihabiskan untuk sesuatu yang jelas tidak pasti, pada akhirnya yang paling menderita itu Ah Nan.”

Ben tersentak menatap Ah Jue dengan pandangan tidak mengerti.

“Pada akhirnya ketika aku mati, tidak ada lagi uang yang akan menyokong kehidupan kalian berdua. Tidak ada uang yang cukup untuk makan, tempat tinggal, dan sekolah Ah Nan. Ben, suatu hari nanti Ah Nan pasti punya cita-cita dan ingin masuk universitas lalu suatu hari ia akan menikah. Pada akhirnya karena segala hal yang kita punya digadaikan, masa depan Ah Nan semakin tidak pasti. Ini bukan tentang aku atau kau, Ben. Ini semua tentang Ah Nan!” kata Ah Jue dengan suara lembut.

Ben mendengar dengan seksama tetapi tetap menggelengkan kepalanya.

“Pikirkan Ben. Aku dirawat tetapi tetap mati dan Ah Nan menderita atau aku pulang walaupun tetap mati namun Ah Nan tidak menderita. Diantara kedua pilihan itu aku tetap mati tetapi kehidupan Ah Nan bergantung pada pilihanmu itu.”

Hanya saja, ketika Ben dan Ah Nan pulang, Ah Jue tetap tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.