SEP-4

Bagian IV

“Uhuk.. Uhukk..”

Sejak dua hari yang lalu, Ah Jue sering batuk-batuk darah dan hanya mampu untuk berbaring di kasur. Kesehatannya makin hari makin menurun walaupun telah meminum bermangkuk-mangkuk obat herbal yang sangat pahit itu. Ben tidak tahu kalau Ah Jue sering batuk darah karena tentu saja Ah Jue menyembunyikannya. Ah Jue menatap wajahnya yang tirus seperti mayat di depan cermin. Bola matanya yang hitam tetap bersinar jernih. Satu-satu bagian tubuhnya yang membuktikan bahwa Ah Jue masih hidup selain nafasnya yang terkadang-kadang melambat.

Ah Jue seringkali berkhayal apakah mati rasanya sama menyakitkan dengan keadaannya yang sekarang. Saat Ah Jue sedang melamunkannya, bayangan wajah lelaki tampan yang ia temui tiba-tiba di hutan waktu itu muncul. Ah Jue tersenyum pahit. Dulu ia pernah membayangkan bagaimana rasanya jatuh cinta lalu menikah dengan orang yang juga mencintainya dengan sepenuh hati. Namun takdir lumayan jahat, ketika Ah Jue sudah bersiap untuk meninggalkan dunia, ia malah merasakan apa yang namanya cinta.

“Perasaan konyol seperti ini sungguh menggelikan untuk orang yang akan mati seperti aku,” ucap Ah Jue dengan suara pelan sembari menatap langit-langit kamarnya.

“Uhukk.. Uhukk.. Uhukk..”

“Ahh… Apa aku bisa bertemu lagi dengan lelaki tampan itu ya?” gumam Ah Jue entah kepada siapa.

Sebelum Ah Jue jatuh sakit, ia anak yang lumayan pandai sehingga bisa memasuki sekolah elit di kota tempat ia tinggal. Hanya saja, Ah Jue harus berhenti dari sekolah karena tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan sekolah dengan kondisi seperti itu. Membayangkan kehidupan sekolahnya yang berhenti setengah jalan, Ah Jue tidak mampu untuk berduka cita setelah cukup lama ia berhenti untuk berharap sembuh.

Maka dari itu, ia merasa mungkin ia tidak punya kesempatan untuk terakhir kali melihat gedung sekolahnya. Dengan memaksakan diri untuk bangkit, Ah Jue pergi untuk melihat sekolahnya itu. Masih memakai syal di lehernya dengan tambahan topi, Ah Jue diam berdiri di seberang jalan menatap dalam hening ke arah gerbang sekolahnya beserta sesekali melirik anak-anak yang memakai seragam yang dulu pernah Ah Jue pakai juga. Ah Jue sedang bernostalgia dan tidak menyadari sepasang mata yang tajam menatapnya 5m dari tempat Ah Jue berdiri.

Pemilik mata itu secara mengejutkan adalah lelaki tampan yang diam-diam Ah Jue sukai dari pertama kali bertemu. Sebenarnya lelaki tampan itu juga bingung, kebetulan yang aneh itu sedikit menggerakkan perasaannya seolah-olah ada sesuatu yang memerintahkan lelaki tampan itu untuk menemui Ah Jue. Hanya saja jenis perasaan itu bukan jenis yang sama dengan yang dirasakan Ah Jue terhadap lelaki tampan itu.

Ini lebih seperti perasaan purba yang sedikit mencekik jantungnya.

Lelaki tampan itu akhirnya berjalan tanpa tergesa-gesa menuju Ah Jue yang masih menatap dengan seksama gedung sekolah di depannya.

“Kita bertemu lagi.”

Suara yang dalam dan rendah itu menyentakkan Ah Jue dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke sumber suara. Hingga ketika Ah Jue melihat siapa gerangan yang berbicara dengannya, Ah Jue merasa waktu berhenti sejenak.

Wajah yang acuh tak acuh dengan sepasang mata yang menatap Ah Jue dengan malas persis sama dengan bayangan yang mendatangi Ah Jue setiap ia melamun.

Tidak bersikap bodoh terlalu lama, Ah Jue kembali bersikap tenang seolah perasaan yang menemuinya beberapa detik yang lalu tidak pernah ada. Ia menggerakkan bibirnya sedikit dengan suara pelan. “Ya.. Betapa kebetulan, ya.”

Jawaban ambigu itu tidak mengganggu lelaki tampan itu. Ia hanya berdiri sekitar dua langkah di samping Ah Jue dengan sikap santai sembari melirik hpnya sesekali. Sepertinya lelaki tampan itu disini karena menunggui seseorang. Berbeda dengan lelaki tampan itu, selain tatapan saat lelaki tampan itu menyapanya, Ah Jue tidak pernah meliriknya lagi dan hanya memandang ke depan.

Setelah semenit berlalu Ah Jue mulai melangkah pergi sembari  bergumam, “Aku pergi dulu.”

Tidak ada kata ‘sampai jumpa’ dan Ah Jue juga tidak memandang lelaki tampan itu saat pergi.

Lelaki tampan itu hanya berdiam diri tanpa melakukan gerakan apapun. Persis seperti sebelumnya. Punggung rapuh itu selalu menarik perhatiannya.

“Kakak!”

Panggilan seorang gadis menyentakkan lelaki itu sembari memegang tangan lelaki tampan itu. Sebelumnya gadis itu memperhatikan kakaknya menatap ke arah lain maka ia juga mengikuti arah pandangannya dan mendapati sosok yang familiar dalam penglihatannya.

“Oh? Bukannya ia sudah berhenti karena sakit?” gumam gadis itu tanpa sadar.

Tentu, lelaki tampan itu masih bisa mendengarnya walau ia juga tidak berbicara untuk bertanya.

Dua minggu setelah pertemuan itu, Ah Jue dapat merasakan garis kehidupannya semakin menipis.

“Ah Jue… Besok adalah hari ulang tahunmu, mari kita pergi ke kuil dulu pagi harinya sebelum merayakannya,” kata Ben dari dapur.

“Hmm..”

Saat mendengar kata kuil, Ah Jue yakin satu-satu doa yang ingin diucapkan kakaknya. Namun sepertinya doa kakaknya tidak akan dikabulkan.