UG-1

Dumb #1

Ada satu hal yang membuatku sering ketar-ketir sendiri atau lebih parahnya lagi menuju keadaan gangguan jiwa. Oke, bisa dibilang itu lebay banget namun satu hal yang pasti aku merutuki hal yang telah membuatku seperti gadis gila. Aku sering kali melakukan terapi pernapasan. Aku sering kali merasa vertigoku kumat padahal sebelumnya aku tidak pernah mengalami vertigo.

Yang paling payahnya lagi, jawaban yang aku temukan susah payah di internet hanya 3 kata : Aku suka seseorang.

Sebenarnya aku sangat bersyukur mendapati bahwa aku tidak memiliki kelainan pada diriku. Akhirnya di umurku yang sudah menginjak 17 tahun ini aku dapat merasakan yang namanya ‘suka’. Tapi masalahnya mengapa rasa suka yang pertama ini jatuh ke orang yang salah? Tidak. Eits, bukan semacam cinta terlarang, kay? Tetapi ada ‘sesuatu’ yang membuatnya salah!

“Ethellia!!!!!!!!”

Aku tersedak permen saat seseorang memanggilku dengan tepukan bahunya yang kuat sekali. Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati seorang gadis berwajah cantik melihatku dengan tatapan aneh.

“Ethellll.. jangan bilang lo lagi mikir jorok.”

Hah?

Aku hanya menatapnya dengan mulut menganga dan tidak peduli permen yang ada di mulutku meluncur keluar dengan dengan tidak elite. Mendengus tidak percaya akan perkataan sahabatku ini dengan wajah dongkol lalu mengabaikannya begitu saja yang seenaknya mencomot roti milikku. Aku menghembuskan nafas lelah sembari menatap layar ponselku yang menampilkan sebuah blog.

“Kenapa sih? Stress gara-gara nanti malam minggu, ya?” kata Brenda –sahabatku- itu sambil menaikkan alisnya jenaka.

Aku mendengus. “Sejak kapan gue memikirkan hal kayak begituan?”

Brenda memutar bola matanya. “Oh ya? Makanya nyari pacar biar hiduplo yang abu-abu itu setidaknya jadi warna pink!” kata Brenda semangat yang tentu saja aku abaikan.

Aku bersiap-siap melempari botol minuman ke jidat Brenda jika saja gadis tengil itu tidak bersembunyi di belakang tubuh seseorang.

“Awwww….. Garrenn adik kesayangan kakakkkk… tolong aku dari amukan Nenek Sihir!!!” pinta Brenda manja yang langsung saja aku hadiahi pelototan tingkat seribu ke arah gadis itu. Brenda? Ia sudah menjulurkan lidahnya ke arahku.

Garren, adik kembar Brenda menatap gadis berambut brunette itu dengan pandangan bosan lalu memandang ke arahku yang seketika pandangannya berubah menjadi horror. Ya, aku akui ucapan ‘nenek sihir’ itu tidak sekedar kata pajangan Brenda asja. Aku mengakuinya sejak insiden tiga tahun lalu. Dan tolong, jangan bahas yang satu itu.

“Wow, santaii Ethell… semua orang di kantin ini masih ingin hidup,” kata Garren yang mendramatisir.

“Lebay banget deh…” kataku jengkel yang dihadiahi tawa puas dari lelaki itu.

Aku melamun tiba-tiba dan entah sejak kapan botol ditanganku sudah berpindah tempat ke tangan Garren. “Dari pada lo buang mending buat gue aja minumannya ya Ethelliaaa..”

“Disitu ada bekas gue.”

Garren mengucapkan kata ‘Iuhh’ dengan sengaja namun langsung mengambil tissue punyaku dan mengelapkannya ke bibir botol itu.

“Nah, perkaranya beres. Ada lagi?”

Aku tidak menjawab bahkan hingga Garren dan Brenda berlalu di hadapanku. Sedangkan aku langsung melemas dan meletakkan keningku ke meja.

Ini masalahnya, aku suka sama seseorang yang namanya Garren di umurku yang ke tujuh belas.

Wajahku memerah ketika terbayang tawa Garren yang begitu memesona.

“Puber sialan. Garren sialan.”