UG-4

Dumb #4

Sekarang aku berada di kamar anak ketiga keluarga Juan. Leo Tri Juan menatapku dengan wajah polos yang detik selanjutnya menatapku dengan raut kusut. Aku menaikkan salah satu alisku ketika anak itu sekarang lebih memfokuskan dirinya ke rubik-kubik miliknya.

Aku melakukan terapi pernafasan sebagai permulaan sesi tanya-jawab ini. “Hmm Leo.. Sekarang jelasin ke Kakak kenapa kamu tiba-tiba tadi nembak Kakak?”

Tiba-tiba kamar ini terasa panas apalagi ketika aku mengatakan kata ‘nembak’ tadi. Aku dapat merasakan wajahku memanas dengan sendirinya dan untunglah Leo masih polos untuk mengetahui apa yang namanya ‘blushing’.

Leo mengatupkan mulutnya dan telah berhenti memainkan kubik rubiknya. “Memangnya kenapa? Kenapa pake blushing segala?”

Oh. Ternyata anak berumur 8 tahun tahu yang namanya blushing. Terkutuklah Brenda beserta drama-drama Korea yang telah mengotori otak polos Leo.

Aku menggaruk kepalaku yang memang gatal dan aku baru menyadari kalau dari kemaren aku belum keramas. Rencananya aku ingin mandi tetapi langsung gagal gara-gara adegan melamar yang disengaja oleh Leo Tri Juan ini.

Aku berusaha mencari jawaban yang masuk akal untuk anak berumur 8 tahun. “Sekarang biar Kakak aja yang bertanya dan Leo yang menjawab. Dari mana Leo bisa berpikiran untuk menembak Kakak bahkan mengajak Kakak nikah?”

Aku terkekeh ketika mendapati Leo menggembungkan pipinya. Anak itu memang lucu dan manis tetapi gara-gara lelaki yang bernama Garren, Leo menjadi anak yang tidak ada manis-manisnya sama sekali! Itu semua salah duo bersaudara jahannam itu!

Aku menunggu lama untuk mendengar jawaban Leo tetapi anak itu memilih bungkam. Aku hampir saja tertidur ketika Leo bergumam. Sontak saja aku mengangkat kepalaku dan memandangnya dengan pandangan berbinar.

“Kalau Kak Ethel mau jadi pacar Leo, akan Leo kasih tahu jawabannya. Gimana?”

Anak ini selain pandai melamar juga pandai menawar. Aku mengerucutkan bibirku gemas dan berlagak menimbang-nimbang tawarannya dengan menyangga daguku. Tidak mungkinkan aku menerima lamaran anak berumur 8 tahun? Kalau sampai Tante Yuna dan Om Axel tahu bisa-bisa aku masuk penjara, dong?

TIDAK!!!

Aku berdiri tiba-tiba membuat Leo hampir terkena pukulan sikuku. Vertigoku mendadak muncul sehingga aku harus melakukan terapi pernafasan. Aku akan mencari tahu kenapa si kecil Leo bertingkah absurd seperti ini. Sekarang yang paling penting adalah membunuh Garren dan menyekap Brenda karena mereka tersangka paling rasional penyebab Leo mengalami putus syaraf otak.

“Leo…” aku menghembuskan nafasku lalu beralih menatap matanya sekarang aku sadar bahwa Leo juga sama tampannya dengan Garren. Tetapi Garren lebih tampan.

Aku memilih tidak melanjutkan ucapanku dan beralih untuk menggendongnya tetapi anak itu malah menghindar.

“Leo bisa sendiri..”

Aku menganga ketika melihat wajah merajuk anak itu. Ia dengan santainya melangkah keluar meninggalkan aku sendirian.

Jangan bilang ia marah karena aku menolak tawaran dia untuk pacaran? Apapun alasannya, akan kupastikan untuk mencari tahu penyebabnya.

Pertama sekali mari mengurus Garren dan Brenda.

**

“Ethelliaaa…. Apa kabarr?” tanya Tante Yuna ketika baru saja sampai di rumah bersama Om Axel.

Aku tersenyum kikuk dan menanggapi pertanyaan Tante Yuna seadaanya. “Baik Tante.”

“Papa tahu gak? Tadi lohhhh…”

“Brendaaa!!!!!” teriakku sembari berjalan ke arahnya. Aku tersenyum manis ke Om Axel berharap lelaki yang sudah berkepala empat namun tetap gagah itu tidak curiga. “Kamu lihat ponsel aku gak?”

Brenda menatapku heran terlihat curiga namun menepisnya ketika menatap wajahku yang pura-pura bingung. “Kamu sih ceroboh. Masa ponsel aja ga tau dimana letaknya. Misscall aja sana.”

“Makanya aku mau minjem ponsel kamu buat misscall.”

“Merepotkan banget deh.. Nih,” kata Brenda sembari memutarkan matanya lalu memberikan ponselnya kepadaku.

Untung saja Om Axel sudah pergi dan sepertinya tidak berniat mendengar laporan dari gadis ember ini. Dan satu lagi, kalau ada Tante Yuna dan Om Axel, aku sama Brenda dan Garren itu berbicara pakai kata ‘aku-kamu’.

Mengingat kata ‘aku-kamu’ sepertinya salah satu alasan aku terlambat banget suka sama seseorang itu –lebih tepatnya Garren- karena dari dulu kami sudah biasa memanggil satu sama lain dengan sapaan tersebut. Yah walaupun cuma di depan Tante Yuna sama Om Axel sih. Kan ‘aku-kamu’ itu hanya untuk orang-yang-ehem-pacaran.

“Dimana anak itu?” gumamku sambil menatap sekeliling tetapi lelaki yang aku cari tidak menampakkan dirinya sama sekali. “Apa dia pergi? Dasar lelaki menyebalkan.”

“Siapa yang lo bilang menyebalkan?”

Aku terkesiap dan sudah mangap-mangap ketika Garren muncul di hadapanku dengan salah satu alis dinaikkan. Mungkin heran dengan diriku yang terlalu over-acting atas kemunculannya. Sudah jelaslah, dulu sama sekarang kan beda. Dulu itu aku cuma menganggapnya sebagai ‘lelaki-badung-yang-hobi-menjahili-anak-orang’ sekarang menjadi ‘pangeran-pujaan-futurenya-Ethellia-Zephyrine-Denayara’.

“Gak kok. Ihh kok lo geer banget sih. Kayak yakin aja lo yang gue katain.”

“Barangkali aja kan, mulut lo kan asem.”

Aku mendengus. “Emang lo pernah nyobain mulut gue? Yakin bener asem. Eh.”

Ups. Kelepasan. Niatnya sih tidak bilang itu.

“Plis deh ah. Bercanda kali, Kucing Garong,” kataku ketika melihat wajah horrornya.

Tidak tahan lama-lama, aku pun ngacir menghampiri Leo yang sedang memainkan kubik-rubiknya di sofa.

Leo umurnya masih delapan tahun tapi mainannya kubik-rubik. Pengen banget melempar kubik itu ke angkasa karena melihat bentuknya saja membuatku mual. Pernah sih aku memainkannya sekali saat kakakku si Rewyn menantangku. Hasilnya, aku terkapar di lantai setelah berkutat 3 jam untuk menyelesaikan kubik sialan itu. Yang menyebalkan itu, kubik itu hanya terselesaikan satu sisi.

Aku memelototi kubik itu hingga membuat Leo risih. “Kenapa? Mau main ini?”

Aku mengiyakan ajakan Leo dan kubik itu berpindah tangan dari Leo ke aku. Namun bukannya memainkannya aku malah melemparnya ke sofa sebelah dan untungnya mengenai jidat Garren. Yu-hu!

“Aduh. Kamp-. Lo ngeselin banget sihh?” Aku mengabaikan kata-kata Garren.

“Kok dilempar sihhhh??” ucap Leo histeris. Aku mengangkat bahuku dan tersenyum penuh arti.

Aku mulai berdrama. “Leo… Kakak mendukung apapun yang kamu suka asal bukan kubik-rubik.”

Kubik kembali kepadaku dengan mendaratkan diri di kepalaku. Aku melotot ke arah Garren tetapi lelaki itu asyik memainkan ponselnya dengan telinga disumbat earphone.

“Berarti Kakak mau dong jadi pacar Leo? Katanya akan mendukung apa aja yang Leo suka.”

Si Garren yang jelas-jelas telinganya sedang disumbat mendengar perkataan itu sejernih air Aqua lalu menganga tak percaya. Aku? Kondisinya 11-12 sama Garren tetapi kali ini mungkin lebih jelek.

“Leo, kenapa mau sama dia? Udah jelek, kurus, ga ada manis-manisnya tuh.”

Sialan. Si kutu kupret ini mau mengajak perang dunia ketiga ternyata.

Leo mengendikkan bahunya. “Kata temen Leo, suka itu ga harus liat fisik.”

“Ehhh? Jangan bilang temen kamu sesama sekolah?” tanyaku yang dibalas Leo dengan anggukan polos. “Kamu percaya? Kok bisa?”

“Habis kata si Joni kalau ga punya pacar itu artinya ga keren. Leo kan keren. Masa kalah sama Joni yang wajahnya jauh dibawah Leo?”

Lihat ini ulahnya siapa? Jelas-jelas siapa pelaku yang mengakibatkan kalimat itu meluncur dengan pedenya dari Leo.

“Lo.” Tunjukku sadis. “Empat mata,” kataku penuh penekanan sambil mengarahkan jari ke mataku lalu ke mata Garren dengan seksama.

Sekarang aku tahu dari mana Leo minta pacar-pacaran. Ternyata tak lebih dan tak kurang dari seorang bocah ingusan yang pasti dapat ilham setelah nonton sinetron ‘Anak Jalanan’.