My Dally Babbling #15

Aku sedih sekaligus ingin mengumpati diri sendiri. Ini murni kesalahanku yang selalu ceroboh dan tergesa-gesa. Pada akhirnya orang yang tidak ada hubungannya dan tidak mendapatkan impact apa pun terkena imbasnya. Aku ingin merutuki bahwa bagaimana aku pada akhirnya tidak mengikuti kata hatiku dibanding mendengarkan kata-kata orang lain yang tidak sejalan dengan prinsipku. Aku selalu mengatakan baik pada diri sendiri maupun orang lain bahwa aku tidak terbiasa minta tolong. Bukan karena aku merasa aku lebih baik dari orang lain dan/atau aku tidak sudi menerima belas kasihan orang lain tetapi dikarenakan aku selalu takut bahwa aku akan menyusahkan orang lain secara fisik atau pun mental. Aku selalu merasa aku hanya membuat orang lain menolongku karena segan sehingga terpaksa. Aku bahkan takut walau hanya sekedar membayangkan mereka membenciku dan mencercaku di dalam hati mereka. Jadi aku selalu memerintahkan diriku untuk selalu melakukan apa pun yang sebenarnya bisa aku perjuangkan sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Aku tahu itu tidak benar. Manusia sebagai makhluk sosial, dalam hidup pasti pernah harus bergantung pada orang lain. Aku tidak menafikan kalau aku juga membutuhkan bantuan itu. tetapi hal remeh-temeh yang kalau dipikirkan sebenarnya jika berusaha lebih dan berupaya lebih keras ternyata dapat dilakukan dengan tangan sendiri. Why not?

Aku tidak bisa menyalahkan walau sebenarnya yang memiliki ide dan menyarankan merupakan pihak lain. Namun tidak peduli apa pun alasannya bukankah orang akan selalu melihat hasil dibanding proses? Jadi siapa yang peduli menjadi dalang jika yang melaksanakan dan menjadi pelaku adalah aku sendiri? Siapa yang mau mendengarkan alasan-alasan itu ketika mereka telah merasa dipecundangi atau dirugikan. Aku yang meminta tolong, aku yang memohon, dan aku yang membujuk.

Aku tidak menyalahkan dia yang marah padaku. Lebih kepada aku tidak tahu lagi sikap apa yang harus aku tunjukan sebab perasaan bersalah itu akan menghantuiku kapan pun aku mengingat dia.

Dia memaafkanku adalah amnesti terbesar yang aku bisa peroleh. Aku tidak akan konyol untuk meminta dia mengerti perasaanku dan merasa bersalah juga untuk itu.

Mereka bilang ini menjadi pelajaran untuk menjadi dewasa. Ya, aku tahu. Aku sangat tahu. Bagaimana mungkin aku tidak paham ketika aku bukan lagi anak kecil yang belum mendapatkan KTP?

Mereka bilang tidak perlu memikirkannya terlalu jauh karena mereka teman. Mereka akan mengerti. Tetapi aku bahkan kepada sahabatku sendiri tidak bisa melakukan hal yang sama.

Aku tahu aku tidak boleh menyalahkan orang lain. Aku juga tidak mengalihkan kesalahan itu pada siapa pun. Aku mengerti kenapa dia marah. Kenapa dia kasar. Kenapa dia berkata begitu menusuk jantungku.

Aku bahkan tidak sanggup meneteskan air mata. Aku bahkan tidak mampu menunjukkan kesedihanku kepada siapa pun. Karena aku merasa aku sangat tidak layak bertindak seperti itu.

Dan juga, aku takut tidak ada yang bersimpati padaku.

Sekarang aku menjadi takut dan trauma. Prinsipku mungkin akan semakin ketat dan mengikatku dibandingkan sebelumnya. Bukannya aku lemah mental atau pengecut. Hei, aku bisa menoleransi 1000x lipat jika orang mengejekku, mencemoohku, mem-bully-ku terang-terangan. Kulitku sudah terlalu tebal dan hatiku sudah kebal menerima perlakuan semacam itu dari kecil. Itu disebabkan yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan aku. Bukan aku yang berbuat salah. Tetapi berbeda jika aku sendiri yang salah, aku selalu merasa aku buruk dan takut akan pikiran orang lain.

Inilah aku. Aku tidak pernah pandai membuat orang mengerti perasaanku. Tiap kali aku menyebutkannya, aku hanya akan disalahkan.

Sensitif. Terbawa perasaan. Tidak pandai bercanda.

Aku paham. Aku tahu.

Haahh. Padahal aku ingin menceritakan keasikanku hari ini. Namun siapa sangka berakhir seperti itu. mungkinkah keberuntunganku selalu menjauh dariku? Mengapa tidak ada hal becus setiap aku berbuat sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s